Mengeluh
Hanya Memperparah
Mengeluh berasal dari kata dasar
keluh, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia hal 553 susunan W.J.S. Poerwadarminta
keluh berarti terlahirnya perasaan susah (karena menderita sesuatu yang berat,
kesakitan). Sementara mengeluh berarti melahirkan keluh kesah. Orang yang
mengeluh adalah pengeluh.
Manusia terlahir mudah mengeluh.
Mengeluh karena penghasilan kurang, mengeluh karena banyaknya masalah yang
dihadapi, mengeluh karena sikap orang lain menyinggung dirinya, dan mengeluh
karena apa-apa yang dihadirkan di hadapannya tidak sesuai dengan keinginan.
“ Sesungguhnya manusia diciptakan
bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh
kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (Al-Qur’an Surah
Al-Ma’aarij 70: 19-21)”
Sikap mengeluh menunjukkan
kekerdilan jiwa dan mencari pembenaran diri. Seorang yang mengeluh senantiasa
mencari penyebab permasalahan adalah sesuatu di luar dirinya sehingga kurang
melakukan instropeksi. Padahal seringkali yang menjadi permasalahan utama
seseorang adalah dirinya sendiri, bukan orang lain atau sesuatu di luar diri.
Agama mengajarkan untuk tidak
mengeluh. Mengapa demikian? Dalam kehidupan tentu akan selalu ada suka-duka,
sedih-senang, panas-dingin, hitam-putih, terang-gelap dan semua hukum alam
lainnya. Karenanya kenapa harus mengeluhkan perputaran roda kehidupan yang
pasti akan terjadi?
Kehadiran segala sesuatu pada dasarnya
harus diterima secara lapang dada karena Allah izinkan terjadi pada diri kita,
betapapun menyakitkannya, tidak mengenakkan, menakutkan, atau menjijikkan.
Sikap penerimaan inilah yang akan melapangkan dada dan membuatnya kuat untuk
menjalani suka duka kehidupan. Tanpa sikap menerima, yang muncul hanyalah
keluhan seolah-olah diri ini adalah orang termalang di dunia, Tuhan bersikap
tidak adil, dan seolah-olah segala macam kesulitan hidup hanya ditimpakan
kepada diri kita seorang.
Mengapa manusia dilarang
mengeluh? Mengeluh adalah sikap kekanak-kanakan yang pada hakikatnya
menunjukkan kita tidak menerima apa yang Allah hadirkan. Kita merasa ada yang
salah pada pengaturan Allah. Padahal semua yang diizinkan tiba di hadapan telah
diukur kadarnya dengan tepat dan tidak akan salah sasaran. Yakinlah bahwa Allah
Maha Pengatur dan sangat paham akan apa-apa yang Dia izinkan untuk terjadi atau
tidak terjadi pada diri kita. Karenanya, patutkah kita menyalahkan Dia,
bersangka buruk pada-Nya dengan keluhan? Pernahkah menyadari apa-apa yang
dianggap tidak enak atau tidak nyaman bagi ego dan syahwat kita adalah sesuatu
yang sengaja Allah hadirkan untuk melindungi dan mendidik kita?